#Bencana
Warga Sumatra Utara Heboh, Mati Lampu Total Seharian Bikin Aktivitas Lumpuh
Oleh Manja123 |
Dipublikasikan pada 14 Jul 2026
Warga Provinsi Sumatra Utara dihebohkan oleh bencana non-alam berupa pemadaman listrik total (blackout) secara mendadak yang melumpuhkan seluruh aktivitas masyarakat seharian penuh pada hari Selasa, 12 Mei 2026, mulai pukul 06.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB. Peristiwa heboh ini menjadi sorotan utama di salah satu titik terdampak paling parah, yaitu di pemukiman warga Jalan Bersama, RT 03/RW 05, Kelurahan Bantan, Kecamatan Medan Tembung, Kota Medan, di mana seluruh jaringan listrik rumah tangga, lampu jalan, hingga sinyal internet mati total selama 16 jam.
Bencana pemadaman massal ini langsung memicu kepanikan dan kehebohan di kalangan warga sejak pagi hari saat jam berangkat sekolah dan kerja. General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sumatra Utara, Bapak Saleh Ali Akbar, langsung memberikan pernyataan resmi bahwa pemadaman ini disebabkan oleh adanya kerusakan teknis yang fatal. Gangguan tersebut terjadi pada sistem transmisi tegangan tinggi 275 kV di jalur utama interkoneksi, yang kemudian berdampak pada runtuhnya sistem kelistrikan di hampir seluruh kabupaten dan kota di wilayah Sumatra Utara.
Dampak dari matinya aliran listrik ini benar-benar membuat aktivitas warga lumpuh total dan kacau balau. Salah seorang warga setempat yang membuka usaha fotokopi dan warung internet di Jalan Bersama, Kak Sarah Silitonga (28 tahun), mengaku mengalami kerugian besar karena semua mesin cetak dan komputernya sama sekali tidak bisa menyala sejak pagi. Tidak hanya tempat usaha, proses belajar mengajar di sekolah-sekolah terdekat juga terganggu karena ruang kelas menjadi sangat gelap dan pengap, serta jaringan internet seluler ikut hilang total sehingga komunikasi warga sempat terputus.
Proses terjadinya bencana ini berlangsung sangat cepat dan tidak terduga oleh siapa pun. Tepat pada pukul 06.00 WIB, saat warga baru saja bersiap memulai hari, aliran listrik tiba-tiba padam secara serentak di seluruh kawasan pemukiman. Selang beberapa menit kemudian, jaringan sinyal pada menara telekomunikasi (BTS) yang kehabisan daya baterai cadangan ikut mati satu per satu, membuat suasana kota menjadi sunyi dari aktivitas digital dan menyulitkan warga untuk mencari informasi.
Pihak PLN bergerak cepat dengan mengerahkan lebih dari 150 teknisi ahli ke pusat gangguan transmisi untuk melakukan perbaikan darurat. Proses pemulihan dilakukan secara bertahap dengan membagi aliran daya dari pembangkit listrik cadangan yang masih berfungsi normal di daerah lain. Para teknisi harus bekerja ekstra keras di lapangan selama belasan jam untuk memeriksa kabel-kabel raksasa dan gardu induk utama agar sistem interkoneksi kelistrikan bisa kembali stabil dan terhubung ke rumah-rumah warga.
Suasana di malam hari di sepanjang Jalan Bersama tampak gelap gulita seperti kota mati, dan hanya diterangi oleh kerlap-kerlip lilin serta lampu minyak dari teras rumah warga. Banyak anak-anak sekolah yang terpaksa mengerjakan tugas menggunakan penerangan seadanya, sementara para orang tua berjaga-jaga di depan rumah demi menjaga keamanan lingkungan mereka. Arus lalu lintas di persimpangan jalan besar dekat pemukiman juga sempat semrawut karena lampu pengatur lalu lintas (traffic light) ikut padam total tanpa ada petugas.
Setelah perjuangan panjang dari para petugas teknisi PLN di lapangan, ketegangan warga akhirnya mereda ketika lampu-lampu rumah kembali menyala secara serentak tepat pada pukul 22.00 WIB yang disambut sorak gembira dari anak-anak di gang-gang rumah. Dengan durasi pemadaman yang mencapai 16 jam tersebut, masyarakat sangat berharap agar pihak PLN mengevaluasi sistem transmisi mereka supaya bencana blackout total yang merugikan ini tidak pernah terulang kembali di masa yang akan datang.
← Kembali ke Beranda